
Kembali hatiku perih dan pedih. Membaca dan mengulangi lagi untuk membaca cerita tentang dirinya dimasa dulu saat dia masih bersama pasangan-pasangannya. Salahkah aku mencari tau tetang dia, karena awal permulaan hubungan yang kita jalani ini begitu membuat aku penasaran untuk mengetahuinya. Kenapa sih hatiku ini, aku pun sebenarnya tidak ingin larut dalam keperihan hatiku ini. Tapi siapa yang bisa menghalang rasa sakit itu datang. Tidak aku, tidak kamu dan tidak siapapun.
Jadi... aku harus menyalahkan siapa???
Sebagai manusia yang sama seperti kalian semua, aku pun tidak ingin disalahkan jika aku dikatakan egois atau posesif. Tau apa mereka tentang posesif? Tau apa mereka tentang keegoisan? Sampai mereka bisa memvonis aku menjadi orang yang terlalu berlebihan dalam memperlakukan seseorang terutama pasanganku.
Setiap orang pasti memiliki permasalahan yang berbeda-beda dan mempunyai trik yang juga berbeda-beda. Aku tidak setuju jika seseorang yang belum bercermin pada dirinya sendiri sudah berani mengatakan orang lain yang belum tentu pantas untuk disebut demikian.
Mungkin keegoisan dan sikap sedikit posesif inilah yang membuat aku terus-terusan sakit hati jika melihat masa lalunya pada salah satu dari “her ex-lovely”. Seakan-akan aku tidak bisa sepertinya. Tidak bisa membuat pasanganku bahagia, betah bersamakku dan mencintaiku sama seperti dia mencintai kekasihnya yang dulu.
Ketakutan... Yah... benar. Mungkin ketakutanku terhadap hubungan ini agar tidak cepat berakhir dan hanya ingin untuk selamanya. Perasaan ketakutan itu yang membuat aku seperti ini. Mungkin... Hanya Tuhan yang bisa mengerti apa yang terjadi padaku, hanya Tuhan yang mengerti apa keinginanku. Bukan aku, bukan kamu, bukan dia dan bukan siapa-siapa.
Aku hanya berharap satu orang yang ada dihatiku saat ini mau mengerti sedikit saja tentangku dan keinginanku. Karena masalah terbesarku adalah susah untuk mengungkapkan keinginanku. Dengan cara mengungkapkan kesakitanku, dibalik itu ada keinginanku. Tapi aku tidak berani untuk mengungkapkan keinginanku itu. Betapa bodohnya aku. Walau sebenarnya aku sendiri sadar dan tidak menyukai kebiasaan itu. Sedikit saja dan aku akan mencoba.
Jadi... aku harus menyalahkan siapa???
Sebagai manusia yang sama seperti kalian semua, aku pun tidak ingin disalahkan jika aku dikatakan egois atau posesif. Tau apa mereka tentang posesif? Tau apa mereka tentang keegoisan? Sampai mereka bisa memvonis aku menjadi orang yang terlalu berlebihan dalam memperlakukan seseorang terutama pasanganku.
Setiap orang pasti memiliki permasalahan yang berbeda-beda dan mempunyai trik yang juga berbeda-beda. Aku tidak setuju jika seseorang yang belum bercermin pada dirinya sendiri sudah berani mengatakan orang lain yang belum tentu pantas untuk disebut demikian.
Mungkin keegoisan dan sikap sedikit posesif inilah yang membuat aku terus-terusan sakit hati jika melihat masa lalunya pada salah satu dari “her ex-lovely”. Seakan-akan aku tidak bisa sepertinya. Tidak bisa membuat pasanganku bahagia, betah bersamakku dan mencintaiku sama seperti dia mencintai kekasihnya yang dulu.
Ketakutan... Yah... benar. Mungkin ketakutanku terhadap hubungan ini agar tidak cepat berakhir dan hanya ingin untuk selamanya. Perasaan ketakutan itu yang membuat aku seperti ini. Mungkin... Hanya Tuhan yang bisa mengerti apa yang terjadi padaku, hanya Tuhan yang mengerti apa keinginanku. Bukan aku, bukan kamu, bukan dia dan bukan siapa-siapa.
Aku hanya berharap satu orang yang ada dihatiku saat ini mau mengerti sedikit saja tentangku dan keinginanku. Karena masalah terbesarku adalah susah untuk mengungkapkan keinginanku. Dengan cara mengungkapkan kesakitanku, dibalik itu ada keinginanku. Tapi aku tidak berani untuk mengungkapkan keinginanku itu. Betapa bodohnya aku. Walau sebenarnya aku sendiri sadar dan tidak menyukai kebiasaan itu. Sedikit saja dan aku akan mencoba.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar