Terkadang hidup memang memusingkan. Harus hidup diantara semua kepalsuan, harus hidup diantara semua sandiwara-sandiwara mulai dari yang kecil sampai yang besar bahkan terlalu besar untuk dijadikan suatu resiko kehidupan.
Mungkin hidup adalah permainan orang-orang yang tidak terlalu peduli dengan kejujuran. Menganggap diri mereka benar tanpa “lecet” sedikitpun, menganggap kepetingan mereka lebih dari segala-galanya. Inilah hidup, siapa yang mau dirugikan dan siapa yang akan untung dalam hal ini. Segala pertimbangan untung-rugi, baik-buruk, iya-tidak, dan segalanya yang tidak akan membuat mereka menyesal.
Mengapa ada kehidupan…
Mengapa selalu saja manusia berbuat dosa…Mengapa kita hanya bisa berjalan tidak sesuai dengan ingin kita…
Mengapa kita harus menuruti semua keinginan mereka yang sebenarnya hanyalah sesuatu yang tidak menguntungkan kita melainkan sesuatu yang membuat kita tersesat dikemudian hari…
Mengapa kita bisa hidup dengan dunia yang seperti itu…Menghela nafas panjang untuk yang keseribu kalinyapun tidak akan melegakan pikiran kita kalau kita hanya beranggapan “ini hanya untuk mereka yang menginginkan aku begini, ini bukan inginku”
Kita manusia, punya akal dan pikiran. Punya hati dan perasaan. Punya keinginan dan harapan. Tetapi semua yang menjadi hak kita tidak bisa kita fungsikan sebagaimana mestinya. Akal dan pikiran kita hanya berdiri disatu tempat saja yang tidak bisa diganggu gugat oleh siapapun, kecuali mereka. Hati dan perasaan kita hanya berada pada titik tengah yang dihalangi oleh gumpalan-gumpalan hati yang sudah membeku. Dan keinginan dan harapan kita hanyalah sebatas kita mampu atau tidak berjalan dibawah batasan-batasan yang telah diberikan oleh mereka. Berusaha membuat kita menjadi budak mereka, dari yang satu sampai yang lainnya. Melarang segala yang ingin kita lakukan, melarang segala yang kita anggap itulah jalan kita. Dimata mereka, kita hanyalah sebutir pasir yang bila dihembus kearah kiri, maka kita akan kearah kiri tanpa melakukan pertentangan apapun. Kita hanya seonggok rumput yang selalu diinjak-injak dibawah kaki mereka. Padahal mereka tidak bisa melihat kegunaan pasir dan rumput tersebut lebih dari penting.
Pertanyaannya hanyalah, mampukah kamu menjadi dirimu sendiri pada situasi seperti itu? Apakah kamu akan diam saja, tetap mengerjakan apa yang telah diperintah oleh mereka walau hatimu sendiri tidak rela melakukannya dan hasilnya pun tidak diketahui apakah baik atau buruk, apakah untung atau rugi, bahkan kamu mengerjakan perintah dari mereka itu dengan hati yang sudah mendongkol, berharap hasilnya tidak akan menyenangkan hati mereka. Atau apakah kamu akan mencari jati dirimu sendiri, mencari apa sebenarnya yang kamu cari dan mencoba untuk mandiri, berdiri di kaki sendiri, tidak ingin mereka terlalu menyusahkan kamu dan kamupun tidak ingin menyusahkan mereka.
Mana yang akan kamu pilih dan apa yang akan kamu lakukan jika kamu berada pada situasi seperti itu???